Searching...
Sabtu, 07 Desember 2013

4 Peranan Mitos Dalam Paradigma Etnis Tionghoa



Tips Dunia Marketing - Mitos dalam kebudayaan dan tradisi masyarakat tionghoa telah berusia ribuan tahuan dan dikisahkan secara turun-temurun. Mitos juga diadopsi oleh masyarakat tionghoa menjadi bagian integral yang mengatur relasi antar individu (intersubjektivitas). Di dalam mitos yang diyakini oleh masyarakat tionghoa tercermin filsafat, seni, adat istiadat dan sistem nilai yang semuanya ini memberikan pengaruh besar dalam pembentukan paradigma maupun karakteristik etnis tionghoa. Setidaknya ada 4 mitos yang memberikan pengaruh besar dalam paradigma etnis tionghoa.

Pertama, mitos yang bercerita tentang dewa-dewi. Di etnis tionghoa, dewa-dewi memainkan peranan utama dalam cara berpikir masyarakat tionghoa. Di satu sisi, mitos dewa-dewi ini menjadi pusat keyakinan orang-orang tionghoa untuk disembah. Di sisi lain, mitos dewa-dewi juga menjadi sistem nilai yang mengatur kehidupan masyarakat tionghoa. Contohnya, di provinsi Hebei di China Utara ada sebuah istina besar dewi Nuwa yang dibangun pada zaman dinasti Ming. Setiap bulan Maret tanggal 15 sampai 18 diadakan festival. Banyak orang dari pelbagai desa dan kota mengunjungi kotaraja untuk sembahyang dewi Nuwa. Mereka bukan hanya sekedar sembahyang, tetapi juga menaikkan doa dan permohonan agar segala usaha yang mereka lakukan sepanjang tahun diberkahi dengan rezeki dan keselamatan. Selama festival berlangsung, mitos dewi Nuwa dikisahkan oleh para narator bagi pengunjung yang hadir. Selain itu juga dikisahkan beberapa testimoni yang diambil dari legenda rakyat. Para narator mengisahkan mitos tersebut sebagai bukti akan keampuhan dan kemahakuasaan dewi Nuwa.

Salah satu legenda rakyat yang terkenal adalah legenda tentang menantu perempuan yang berbakti terhadap ayah mertuanya. Setiap malam di musim dingin, sang menantu perempuan menghangatkan selimut bagi ayah mertunya. Gosipun beredar dan tersebar bak virus mematikan di kalangan warga bahwa terjadi skandal terlarang antara mertua dengan menantu. Untuk membuktikan kemurnian menantu, dia pergi ke kuil dewi Nuwa untuk meminta keadilan. Perempuan tersebut melompat dari atap kuil ke dalam panci pedupaan besar. Yang menarik dari cerita ini adalah si perempuan tersebut tidak terluka sama sekali. Kejadian tersebut menggemparkan warga setempat dan secara otomatis rumor itupun hilang. Kesaktian dewi Nuwa yang mengabulkan permohonan perempuan tersebut bergema sampai ke seluruh pelosok di daratan China.  

Selain dewi Nuwa, ada juga mitos dewi Ganmu yang disembah oleh etnis tionghoa. Dikisahkan bahwa orang-orang Naxi di provinsi Yunnan menyembah dewi Ganmu sebagai dewi kesuburan. Setiap 25 Juli penanggalan tionghoa, masyarakat Naxi melakukan upacara kurban bagi dewi Ganmu. Di samping itu juga ada dewi Zihong Jiemei yang dipercayai sebagai dewi khayangan di mana ia menikah dengan seorang manusia fana. Mereka berdua inilah yang akhirnya menjadi leluhur atau nenek moyang manusia. Itu sebabnya setiap bulan Oktober penanggalan tionghoa diadakan upacara kurban untuk mengenang mereka berdua.

Kedua, mitos yang tersembunyi dalam karya sastra dan seni. Pelbagai mitos etnis tionghoa berakar pada kesusasteraan dan seni. Mitos memberikan kontribusi besar bagi para sastrawan dan seniman. Dalam sejarah sastra China, banyak sekali penyair dan penulis terkenal terinspirasi oleh mitos tersebut, seperti: Qu Yuan, Tao Yuangming (365-427 B.C.), Li Bai (701-762), Li He (790-816); Wu Cheng’en (1500-1582 A.D); Cao Xueqin (1715-1763); Lu Xun (1881-1936); Guo Moruo (1892-1978) dan lain sebagainya. Mereka ini mengadopsi mitos secara langsung sebagai bahan baku dalam penulisan mereka. Beberapa di antara mereka mengambil sisi fantasi dari mitos-mitos yang ada untuk menulis karya fiksi. Ada juga yang menggunakan mitos untuk mendesain suatu karya seni. Dengan cara ini mereka memperoleh kemajuan dalam mengembangkan kesusasteraan dan kesenian China.

Selain menjadi bahan baku kesusasteraan dan seni, mitos dipakai juga oleh media elektronik sebagai tujuan propaganda sistem nilai dan moralitas bagi generasi muda untuk dipelajari dan diteladani. Salah satu film anak-anak yang diadopsi dari mitologi adalah Kuafu. Mitos ini mengisahkan kepahlawanan Kuafu melawan dewi Shiji Niang-Niang. Dewi Shiji Niang-Niang bermaksud menghancurkan umat manusia dengan cara memusnahkan matahari. Sebagai gantinya, Kuafu harus mengorbankan nyawa karena dehidrasi dan keletihan berat. Bencana pun terhenti dan Kuafu berevolusi serta bersembunyi di hutan. Hanya dengan cara itu, Kuafu bisa terus-menerus melanjutkan perjuangannya untuk menolong umat manusia. Mitos ini diadopsi oleh salah satu stasiun TV di China untuk dijadikan tontonan anak-anak. Tujuannya adalah agar kesadaran dan mentalitas anak-anak tentang nilai keadilan dan keyakinan bahwa kejahatan pada akhirnya akan kalah terbentuk dalam diri mereka. Mitos ini juga dipakai sebagai sarana untuk membangun semangat dan akhlak.

Ketiga, mitos yang terserap dalam kehidupan keseharian etnis tionghoa. Pelbagai mitos diciptakan di era arkhais dan ditransmisikan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun. Proses transmisi tersebut membuat mitos melekat dalam keseharian masyarakat tionghoa. Mitos tanpa disadari membentuk sikap, watak dan mentalitas individu terhadap dunia. Mitos juga memberi makna dan model dalam kehidupan kekinian. Ada beberapa etnis tionghoa yang makan daging anjing. Bagi mereka hal itu adalah sesuatu yang wajar. Tetapi ada beberapa etnis di China, seperti etnis Yao dan She, yang tabu memakan daging anjing. Asal mula larangan ini bersumber dari mitos Panhu. Panhu adalah anjing dari dewa Di Ku. Di Ku adalah kaisar langit. Selama dalam peperangan, Panhu membawa kepada musuh untuk dipersembahkan kepada Di Ku. Lewat bantuan Panhu, Di Ku memenangi peperangan. Sebagai imbalannya, Panhu dinikahkan dengan anak perempuan Di Ku. Panhu membawa putri raja langit ke pegunungan Selatan di China. Disanalah mereka berdua beranak-cucu. Itu sebabnya semua keturunan Yao dan She dilarang makan daging anjing karena mereka menyembah Panhu sebagai leluhur dan pelindung suku mereka. Panhu diberi gelar oleh mereka dengan sebutan Raja Pan. Konsekuensi bagi mereka yang melanggar adalah orang tersebut harus mempersembahkan seekor babi bagi kepada Panhu sebagai wujud permintaan maaf. Untuk itu ada ritual yang harus dilakukan oleh orang yang melanggar. Sebelum upacara kurban dimulai, mereka harus memotong babi tersebut dan mereka harus mandi dengan darah babi.

Keempat, mitos terejahwantahkan dalam semangat etnis tionghoa. Salah satu sifat gigih etnis tionghoa terambil dari mitos Jingwei. Jingwei adalah Nu Wa (bukan dewi Nuwa) yang merupakan anak perempuan Yan Di’s (the Flame Emperor). Dikisahkan ketika itu Nu Wa bermain di Laut Timur dan ia tenggelam. Sejak saat itu Nu Wa tidak pernah pulang ke khayangan. Nu Wa berevolusi menjadi burung kecil yang bernama Jingwei. Jingwei bertekad untuk mengisi lautan dan setiap hari dia membawa kerikil atau ranting dimulutnya dan dijatuhkannya ke Laut Timur. Jingwei menjalani harinya dengan cara seperti itu tanpa pernah bertanya apakah impiannya itu mungkin terjadi atau sebaliknya menjadi kesia-siaan. Di kemudian hari cerita ini berkembang menjadi kisah yang menginspirasikan banyak orang-orang tionghoa. Orang-orang tionghoa zaman dulu bersimpati dengan kemalangan Jingwei dan sekaligus mengagumi keberanian, ketangguhan dan kesabarannya. Mitos ini sering dipakai oleh mereka untuk memotivasi seseorang agar jangan mudah menyerah bagaimanapun sulitnya kenyataan yang harus dihadapi.

Jika dilihat dari pemikiran Mircea Eliade tentang mitos maka menjadi lebih jelas bahwa mitos bukan hanya merupakan pemikiran intelektual,tetapi juga memiliki nilai spiritual yang berhubungan dengan Yang Ilahi. Bagi masyarakat arkhais, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita itu menjadi milik mereka yang paling berharga. Bagi mereka, mitos memiliki makna dan mereka menjadikan mitos sebagai model dalam pemberian makna di kehidupan mereka. Mitos juga melukiskan peristiwa primordial in illo tempore yang mempunyai dampak pada masa kini sehinnga keadaan dunia dan manusia menjadi seperti sekarang ini. Di sini terlihat bagaimana mitos memiliki kekuatan pewahyuan akan realitas yang sakral. Untuk itu mitos memakai objek-objek material, aktivitas dan bahasa profan manusia. Mengidungkan mitos juga berarti membangkitkan kekuatan kreatif yang menjadi pendasaran eksistensi manusia di dunia dalam pencarian makna atau arti hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!